Potensi Soft Power Indonesia yang Terpendam: Makanan dan Budaya yang Belum Tersentuh Dunia
Seiring dengan semakin diakui dan dihargainya makanan Indonesia di tingkat internasional, para ahli mengatakan bahwa click here negara ini belum sepenuhnya memaksimalkan potensi promosi kuliner dan aset budaya yang dimilikinya, yang menyebabkan pengaruh Indonesia di panggung global terbatas, sehingga potensi soft power yang besar belum tersentuh.
Masakan Indonesia baru-baru ini dinobatkan sebagai masakan terbaik ketujuh di dunia, sejajar dengan masakan Prancis dan lebih unggul dari masakan Jepang, menurut peringkat terbaru yang diterbitkan oleh TasteAtlas, sebuah panduan daring untuk makanan tradisional dunia dan restoran autentik.
Situs tersebut juga menobatkan bawang goreng, bawang merah goreng yang sangat populer di Indonesia, sebagai kondimen terbaik di dunia selama dua tahun berturut-turut, mengalahkan kecap asal China dan gochujang dari Korea Selatan.
Sup daging hitam Indonesia, atau rawon, pempek (kue ikan), nasi goreng ayam, gulai (semur daging kambing), dan rendang, kari daging sapi yang dimasak lambat, juga terpilih sebagai hidangan terbaik di situs tersebut tahun ini.
Penghargaan terbaru ini tidak mengejutkan Eka Moncarre, pemilik La Maison de l’Indonésie, sebuah restoran Indonesia di Paris. Rendang, katanya, pernah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia pada 2011 dan 2017 oleh CNN.
Namun, peringkat terbaru ini “tidak akan memengaruhi popularitas makanan Indonesia di Prancis” atau di Eropa lainnya kecuali disertai dengan promosi yang konsisten, ujarnya.
Tom Pepinsky, profesor pemerintahan dan kebijakan publik di Cornell University, mengatakan bahwa soft power, atau kemampuan untuk memengaruhi orang lain melalui daya tarik dan ide-ide daripada paksaan, “penting bagi negara mana pun yang ingin meningkatkan posisinya dalam urusan global”.
Indonesia sejak lama dianggap, baik oleh para ahli kebijakan luar negeri Indonesia maupun internasional, kurang terlihat di dunia global dibandingkan negara yang seharusnya memiliki ukuran, kekayaan, dan pentingnya regional seperti Indonesia, kata Pepinsky.
“Soft power, bagaimanapun, bukanlah alat untuk memulai pembangunan ekonomi. Soft power adalah apa yang muncul sebagai hasil dari pembangunan ekonomi yang sukses. Korea Selatan adalah contoh yang menunjukkan hal ini.”
Agus Trihartono, dosen hubungan internasional di Universitas Jember yang fokus pada gastrodiplomasi dan soft power, mengatakan bahwa soft power suatu negara tidak hanya berasal dari budayanya tetapi juga dari nilai-nilai dan kebijakan politiknya.
“Indonesia adalah negara demokratis yang sukses. Islam dapat berjalan seiring dengan demokrasi di sini, dan itu membuat Indonesia menjadi kekuatan menengah yang dihormati. Itu adalah nilai yang seharusnya bisa ditunjukkan Indonesia kepada negara-negara lain,” kata Agus. “Kami memiliki banyak hal istimewa, tetapi kami belum cukup berani untuk memperkenalkannya ke dunia.”
